Leave a comment

Diabetes dan Pradiabetes

Diabetes dan PradiabetesInternational Diabetes Federation atau Federasi Diabetes Internasional mengungkapkan, Indonesia sudah termasuk negara besar keempat dengan penderita diabetes atau diabetesi terbanyak di dunia. Diperkirakan, hingga akhir tahun 2006 ada sekitar 14 juta diabetesi di negeri ini. Dari jumlah tersebut, hanya separuhnya yang sadar atau tahu mengidap penyakit diabetes melitus (DM), dan hanya 30 persen diantaranya yang mau berobat.

Hingga saat ini tidak banyak orang baik diabetesi maupun pradiabetes, yang sadar dan mau berobat atau memperbaiki diri, sebelum terjadi komplikasi atau penurunan kualitas hidup yang berarti. Karena itu, penanganan perlu dilakukan dengan menitikberatkan pada upaya intervensi dini untuk mencegah progresivitas penyakit sebelum menjadi diabetes melitus tipe 2. Usaha lebih mendalam dan berlanjut tentu saja menekan jumlah penderita diabetes dengan memberikan perhatian lebih kepada mereka (pradiabetes) yang memiliki peluang besar untuk menderita diabetes tipe 2.

Sepuluh Tahun

Pradiabetes adalah suatu kondisi dimana kadar gula darah lebih tinggi dari batas normal, meski belum cukup untuk didiagnosis sebagai diabetes. Bila tak ditangai dengan baik, kondisi pradiabetes bisa berkembang menjadi diabetes.

Perubahan status dari pradiabetes menjadi diabetes melitus tipe dua bisa berlangsung dalam waktu 10 tahun. Namun, pemburukan kondisi tersebut bisa diperlambat bila penyandang pradiabetes bisa mengurangi tujuh persen berat badannya melalui modifikasi gaya hidup intensif.

Deteksi dan intervensi dini diyakini merupakan cara paling ampuh untuk mencegah pradiabetes berkembang menjadi diabetes. Sayangnya, mendeteksi gejala pradiabetes bukan hal yang mudah. Jangankan pradiabetes, mengenali gejala diabetes pun kadang cukup sulit.

Sementara itu, diabetes tipe 2 secara sederhana dapat dideteksi dengan melihat tingginya kadar gula dalam darah. Penyakit ini seringkali dipicu oleh beberapa kondisi penyerta seperti obesitas dan gangguan metabolisme lain, termasuk tingginya kadar lemak dalam darah.

Tingginya kadar gula merupakan karakteristik penyakit ini dan telah dibuktikan bahwa resistensi insulin dan disfungsi sel beta dianggap sebagai penyebab utama yang mendasari terjadinya diabetes melitus tipe 2.

Berbagai studi membuktikan, diabetes adalah penyebab utama kebutaan, amputasi, kanker pankreas, stroke, serangan jantung, dan ginjal. Bahkan, DM membunuh lebih banyak dibandingkan dengan HIV/AIDS.

Parahnya dari kondisi pradiabetes hingga benar-benar diabetes, tidak punya gejala fisik khusus dan cenderung laten, sehingga penderita tidak menyadari datangnya penyakit ini. Gejala lain yang timbul pada penderita antara lain penglihatan kabur hingga mengakibatkan kebutaan, luka yang lama sembuh, kaki kebas, geli atau terasa terbakar, infeksi jamur pada saluran reproduksi perempuan dan impotensi pada pria.

Jumlah penderita diabetes di daerah perkotaan di Indonesia pada thaun 2003 sekitar 8,2 juta orang, sedangkan di pedesaan 5,5 juta orang. Diperkirakan 1 dari 8 orang diantaranya adalah mereka yang masuk dalam golongan pradiabetes. Tingginya jumlah penderita maupun pradiabetes didaerah perkotaan, antara lain disebabkan perubahan gaya hidup masyarakatnya. Karena saat penghasilanya cukup, orang jadi makan secara berlebihan. Selain itu minimnya aktivitas fisik membuat orang jadi kegemukan. Ke mana-mana naik mobil, diujung gang pun sekarang banyak ojek, akhirnya makin sedikit orang yang jalan kaki.

Tanda-Tanda Risiko

Lalu, siapa mereka yang memiliki risiko tinggi menderita pradiabetes? Mereka yang memiliki risiko tinggi adalah orang yang berusia 45 tahun atau lebih dan kelebihan berat badan, tekanan darah tinggi, selain tentu saja pola makan yang salah. Orang dengan berat badan normal juga harus lebih waspada jika ada riwayat diabetes dalam keluarga, juga tekanan darah dan kolesterol tinggi. Sebaliknya, mereka yang dibawah 45 tahun, tetapi memiliki berat badan berlebih dan riwayat diabetes juga berisiko tinggi.

Karena penyembuhan akan memakan waktu lama jika berlanjut hingga menjadi diabetes, sudah saatnya tumbuh kesadaran melakukan tindakan pencegahan, antara lain tidak makan berlebihan, menjaga berat badan dan rutin melakukan aktivitas fisik.

Bagi mereka dengan risiko pradiabetes, jangan pernah cuek dan segera lakukan konsultasi secara berkala dengan ahli pengobatan. Selain itu juga dituntut sikap disiplin dan kepatuhan dalam menjalankan pola hidup sehat dan pola makan seimbang.

Olahraga juga dapat secara efektif mengontrol kondisi pradiabetes, antara lain dengan melakukan program penurunan berat badan bagi mereka yang obesitas, jalan kaki, bersepeda dan berenang. Diet dipadu olahraga merupakan cara efektif mengurangi berat badan, menurunkan kadar gula dan mengurangi stres.

Latihan yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan tekanan darah, kolesterol dan risiko terkena serangan jantung, serta memacu pengaktifan produksi insulin dam membuatnya bekerja lebih efisien.

Jadi, mulai sekarang cobalah untuk mengukur diri sendiri apakah termasuk diantara mereka yang emmiliki masalah berat badan, tekanan darah tinggi, serta pola hidup dan makan yang cenderung sembarangan? Sepertinya sudah saatnya untuk mulai peduli agar terhindar dari risiko diabetes sejak dini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: