Leave a comment

Tanda-tanda Anak Terkena Hemofilia

Ketika anak sering mengalami biru-biru di kulitnya atau jika jatuh darahnya sulit berhenti sebaiknya jangan dianggap hal biasa. Ketika sudah ada tanda-tanda seperti itu segera tanya ke dokter apakah mungkin ini hemofilia.

Menurut Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) Prof DR Dr Moeslichan MZ, SpA(K), jika saat ke dokter, orangtua hanya mengatakan anaknya jatuh berdarah, jarang dokter yang terpikir untuk mendiagnosa hemofilia.

“Jadi jika mengalami gejala seperti itu segera pergi ke dokter dan tanyakan, Dok anak saya hemofilia atau tidak?” kata Prof Moeslichan dalam jumpa pers menyambut hari hemofilia sedunia 2010 dengan tema “Bersatu Mencapai Pengobatan untuk Semua” di Midori Japanese Restaurant.

“Sebaiknya jangan hanya bilang anaknya berdarah, karena jarang dokter yang terpikir untuk mendiagnosa hemofilia,” lanjut Prof Moeslichan.

Hingga kini sebagian besar penderita kelainan darah di Indonesia belum dapat terdiagnosis dengan tepat, termasuk untuk penderita hemofilia. Karenanya dibutuhkan kesadaran dari masyarakat untuk mengetahui apa saja gejala dari hemofilia.

Hemofilia adalah salah satu penyakit yang dimulai sejak masa kanak-kanak ataupun bayi yang berusia beberapa hari. Jika tidak segera diobati, maka bisa menyebabkan kematian di usia dini akibat perdarahan di dalam otak atau rongga perut. Namun jika ditangani dengan tepat, maka penderita hemofilia mampu bertahan hidup hingga usia 60-70 tahun.

“Jumlah penderita hemofilia di Indonesia diperkirakan sekitar 20.000 orang. Tapi hingga Maret 2010, tercatat ada 1.236 penderita hemofilia dan kelainan perdarahan lain di Indonesia. Ini menunjukkan baru sekitar 5 persen kasus hemofilia yang terdiagnosis,” ujar Prof Moeslichan.

Prof Moeslichan menambahkan banyaknya penderita hemofilia yang belum sempat didiagnosis karena keburu meninggal atau belum adanya pusat kesehatan yang mendiagnosis hemofilia.

Selain itu diagnosis jenis kelainan perdarahan juga cukup sulit dan memutuhkan fasilitas laboratorium canggih. Hal inilah yang masih menjadi kendala dalam hal diagnosa, karena tidak semua pusat kesehatan memiliki alat diagnosis.

Ada beberapa gejala atau tanda yang harus dicurigai oleh orangtua jika anaknya kemungkinan memiliki hemofilia, yaitu:

  • Anak mengalami perdarahan yang lama dan sulit berhenti.
  • Anak sering mengalami biru-biru.
  • Saat belajar merangkak anak sering mengalami bengkak.
  • Jika anak terjatuh, cepat menimbulkan bengkak kurang dari 24 jam.
  • Anak sulit untuk berjalan.

Untuk mendiagnosisnya, maka dilakukan pemeriksaan laboratorium darah untuk mengetahui kadar dari faktor anti hemofilianya. Biasanya penderita hemofilia mengalami kekurangan faktor 8 atau faktor 9 yang berperan dalam hal pembekuan darah.

“Kalau perdarahan terjadi di dalam otot atau sendi maka akan menimbulkan rasa sakit yang hebat dan jika tidak segera ditolong bisa menyebabkan kematian dini atau cacat,” tambahnya.

Prof Dr Djajadiman Gatot, SpA(K) menuturkan ada beberapa mekanisme yang harus dilalui hingga akhirnya darah dapat berhenti.

Perdarahan terjadi karena adanya luka pada dinding pembuluh darah, setelah itu pembuluh darah akan menciut untuk mengurangi perdarahan. Lalu terbentuk pembekuan darah sementara yang melibatkan faktor 8 dan 9 serta terakhir terbentuk pembekuan darah tetap hingga akhirnya luka sembuh.

Prof Djajadiman menuturkan jika terjadi perdarahan ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai pengobatan awal dan segera, yaitu:

  • Rest (istirahat), usahakan seseorang diistirahatkan dan tidak melakukan apapun.
  • Ice (kompres dengan menggunakan es), kompres ini berguna untuk menciutkan pembuluh darah dan es juga bisa berfungsi sebagai penghilang nyeri.
  • Compression (ditekan atau dibalut), untuk mengurangi banyaknya darah yang keluar.
  • Elevation (ditinggikan), usahakan daerah yang mengalami luka berada pada posisi yang lebih tinggi.

Dalam waktu 2 jam penderita hemofilia harus segera diberikan pengobatan definitif melalui terapi pengganti (replacement theraphy) dengan memberikan konsentrat faktor pembekuan yang kurang yaitu faktor 8 atau 9. Setelah dilakukan 3-4 kali suntik konsentrat, pasien bisa melakukan fisioterapi untuk menghindari kecacatan.

Hemofilia sendiri diketahui ada dua tipe yaitu:

  •     Hemofilia A karena kekurangan faktor 8, perbandingannya di dunia 1:10.000 kelahiran bayi laki-laki.
  •     Hemofilia B karena kekurangan faktor 9, perbandingannya di dunia 1:30.000-50.000 kelahiran bayi laki.

Sumber : detikhealth

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: