Leave a comment

Doping Darah Dilarang, Atlet Pilih Terapi Plasma Darah

Doping darah banyak dilakukan atlet yang memerlukan daya tahan lama karena meningkatkan jumlah sel darah merah di dalam tubuh. Tapi setelah doping darah dilarang, kini para atlet banyak yang menggunakan terapi plasma darah atau platelet-rich plasma (PRP).

Doping darah tidak diperbolehkan bagi atlet yang akan mengikuti kompetisi. Hal ini karena doping darah melibatkan pengambilan darah seminggu sebelum kompetisi dan kemudian disuntikkan kembali sesaat sebelum kompetisi.

Oksigen yang dibawa sel darah merah dapat meningkatkan daya tahan, terutama dalam olahraga aerobik seperti lari jarak jauh dan sepeda. Hal ini dilarang di banyak cabang olahraga, karena alasan adanya peningkatan kinerja, walaupun itu menggunakan darah atlet itu sendiri.

Sedangkan terapi platelet-rich plasma (PRP) atau blood spinning (putaran darah) adalah pengambilan sejumlah kecil darah, yang mengandung platelet atau bagian darah yang mengeluarkan faktor pertumbuhan, kemudian menyuntikkannya pada bagian tubuh yang cedera untuk mempercepat penyembuhan.

“PRP tidak membawa oksigen atau memiliki faktor dalam konsentrasi yang dapat membantu kinerja,” kata Edward Kalfayan, seorang ahli bedah ortopedi Seattle, seperti dilansir dari WSJHealth.

Pada PRP, dokter biasanya mengekstrak 1 hingga 2 ons darah dari vena pasien dan memutarnya pada sentrifugal atau mesin pemisah dua zat, untuk memisahkan platelet yang digunakan untuk pembekuan dan penyembuhan. Kemudian menyuntikkan PRP kembali ke tubuh pasien yang luka atau cedera, yang merangsang perbaikan jaringan yang rusak. Kebanyakan pasien mengalami penyembuhan dalam beberapa minggu.

PRP telah digunakan dalam kedokteran gigi sejak tahun 1970an, dan baru-baru ini digunakan untuk pengobatan cedera tulang pada atlet dan juga pasein lainnya. Kadang-kadang PRP juga digunakan bersamaan dengan proses operasi agar mempercepat pemulihan.

Ahli bedah jantung menggunakan PRP untuk memperkuat jaringan di operasi bypass dan beberapa ahli bedah plastik dan dermatologists menggunakannya sebagai alternatif pengisi wajah.

Namun, beberapa dokter memperingatkan bahwa popularitas PRP telah mendahului bukti ilmiah. Penelitian masih berlangsung untuk menentukan tidak hanya apakah kondisi ini bekerja lebih baik, tetapi juga konsentrasi platelet yang paling efektif, berapa banyak suntikan paling bermanfaat dan berapa intervalnya.

Salah satu penelitian yang dipresentasikan pada konferensi ahli bedah ortopedi menemukan bahwa salah satu bentuk PRP tidak efektif bila digunakan untuk mendukung jaringan selama operasi manset rotator.

Dalam Journal of American Medical Association pada Januari, ditemukan bahwa air asin sama efektifnya dengan PRP untuk memperbaiki sedikit tendon Achilles yang terluka pada pasien yang mengalami gejala selama sedikitnya dua bulan.

Memang, beberapa dokter percaya bahwa pasien harus mencoba pendekatan konservatif lain sebelum PRP, karena banyak luka akan sembuh dengan sendirinya.

“Saya tidak akan menggunakan PRP, kecuali Anda sudah mencoba perawatan lainnya seperti anti inflamasi atau terapi fisik,” kata Dr Brian Halpern, seorang spesialis pengobatan olahraga non-bedah di Rumah Sakit Khusus Bedah di New York City.

Tapi menurut Dr Halpern, hal yang besar tentang PRP adalah bahwa Anda menggunakan jaringan sendiri. Dan orang tidak memiliki reaksi negatif terhadap jaringan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: